JAKARTA, bisniswisata.co.id:-Bagi sebagian orang, deru stick controller dan layar digital hanyalah sarana melepas penat. Berbeda bagi Muhammad Dzaky Firdaus, setiap ketukan tombol adalah langkah kaki dalam perjalanan panjang yang telah ia rintis selama delapan tahun terakhir. Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini baru saja menorehkan tinta emas, setelah resmi menyabet gelar juara nasional Red Bull Wings Cup Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (6/11).
Kemenangan emosional tersebut, bukan sekadar raihan trofi. Ini adalah tiket emas yang akan menerbangkannya jauh dari Makassar menuju panggung megah World Final di Miami, Amerika Serikat, pada Januari 2027 mendatang. Di sana, dia tak hanya membawa nama almamater, tetapi juga memanggul harapan komunitas football gaming Indonesia di hadapan 80 perwakilan negara lainnya.
Layar Kaca Kamar Kos
Perjalanan Dzaky menuju podium tertinggi tidak terjadi dalam semalam. Sejak era FIFA 18, dia telah mendedikasikan waktu, fokus, dan cintanya pada gim sepak bola virtual. Meski kamarnya di Makassar terpisah jarak ribuan mil dari gemerlapnya kiblat sepak bola dunia, kendali di tangannya mampu menghidupkan taktik-taktik kelas dunia.
Kematangan mental Dzaky sejatinya sudah teruji. Dia bukan sosok baru di ranah kompetitif, dia peraih medali perunggu SEA Games 2025 dan gelar juara FCS Japan pernahdirasakan. Ada satu alasan personal yang membuatnya begitu bersemangat “terjun” di ajang Red Bull Wings Cup kali ini yaitu peluang mewakili Indonesia di Miami dan merangkul pengalaman baru yang lebih luas. Uniknya, di luar tensi tinggi pertandingan, Dzaky justru menemukan kebahagiaan sederhana selama babak kualifikasi, “berkesempatan” berjalan-jalan dan mengunjungi berbagai kampus lain tempat kompetisi berlangsung.
Setia Bersama Los Blancos
Ketika babak final mempertemukan delapan talenta terbaik dari berbagai universitas tanah air, atmosfer kompetisi —format Liga Kampus (University League) mode Rush 5v5— terasa begitu hidup. Di tengah kepungan perwakilan kampus-kampus besar Jawa, Dzaky dengan akun legendarisnya, mhdzkyyy, tampil tenang, memikat hati penonton.
Pada laga pamungkas berformat best-of-three, Dzaky berhadapan dengan Gerald Adelio dari Universitas Trisakti. Di sinilah kedewasaan bermain Dzaky bersinar. Tanpa ragu, dia tetap setia mengandalkan Real Madrid—klub yang terus menemaninya sejak babak perempat final.
Gim pertama dibuka dengan dominasi mutlak. Dzaky menyapu bersih pertahanan Manchester City milik Gerald dengan skor mencolok 8–1. Gerald mencoba membalikkan keadaan di gim kedua, dengan beralih menggunakan Manchester United. Namun, kesetiaan Dzaky pada taktik Los Blancos tak tergoyahkan. Dia kembali mengunci kemenangan dengan skor 4–1, memastikan gelar juara tanpa perlu drama gim ketiga. Total 12 gol disarangkan dengan hanya kebobolan dua kali, sebuah bukti nyata dari dedikasi delapan tahunnya di dunia simulator sepak bola.
Mencari Sahabat Baru
Meskipun aroma persaingan di atas lapangan virtual begitu kentara, esensi sejati dari perhelatan tersebut adalah hangatnya kebersamaan. Ajang yang lahir dari kolaborasi Red Bull Blue & Silver bersama EA SPORTS dan PlayStation ini menjadi wadah peleburan bagi 154 juta pencinta gim di Indonesia. Mulai dari peluncuran perdana di Indonesia Comic Con hingga babak kualifikasi di enam kampus besar, ratusan mahasiswa datang bukan sekadar untuk menang, melainkan “datang” merayakan kegemaran yang sama.
Hal ini dirasakan langsung oleh Ahmad Nurhakim, kreator konten sekaligus caster di babak National Final. Baginya, atmosfer di arena terasa begitu hangat karena menjadi ajang reuni. “Red Bull Wings Cup ini bukan cuma soal pertandingan, tetapi juga soal komunitas. Senang bisa bertemu dengan para pemain dan sesama kreator yang sama-sama menyukai EA FC. Kita bisa bermain bareng, ngobrol, dan berbagi keseruan. Momen seperti ini yang membuat komunitas terasa sangat dekat,” ungkap Ahmad penuh senyum.
Sentimen humanis yang sama juga terpancar dari mata Dzaky saat merenungkan langkah besarnya ke depan. Bagi Dzaky, terbang ke Miami bukan lagi sekadar misi berburu gelar juara dunia.
“Setelah menantang diri di SEA Games 2025 dan FCS Japan, memang menjadi ambisi saya untuk berlaga di Miami. Di World Final, saya justru ingin tahu sejauh mana permainan saya bisa bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Terutama di luar Asia, bertukar pengalaman, sekaligus mengenal teman-teman baru yang punya ketertarikan sama terhadap EA SPORTS FC,” tutur Dzaky dengan nada rendah hati.
“Buat saya, kesempatan ini bukan hanya soal bertanding, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas yang lebih luas dan membawa pulang pengalaman baru,” lanjutnya.
Didukung oleh UniPin yang berkomitmen menjaga nyala ekosistem esports Indonesia, langkah Dzaky kini terasa lebih ringan. Dari sudut ruang kuliah di Makassar, pemuda ini siap melangkah ke pantai hangat Miami, membuktikan bahwa dari balik layar monitor, jembatan persahabatan dunia bisa terbentang indah. Selamat.***
Recent Posts
- Atlantic Aviation wants to land Electra's EL9 on NYC piers and barges
- Menuju Miami, Merajut Asa Lewat Kendali Virtual – Bisniswisata
- Indonesia Raih Best Stand Design in Asia dalam ajang World Travel Market (WTM) London 2026 – Bisniswisata
- Gulfstream's G280 supply narrows as the G300 waits on certification
- Democrats won Congress. What that means for business aviation







Recent Comments