Krisis Regional Uji Ketahanan Pariwisata OKI


Indonesia menilai komunikasi krisis, keamanan, fleksibilitas layanan, dan kerja sama antarnegara menjadi kunci menjaga arus perjalanan di tengah ketidakpastian global.

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Ketidakpastian geopolitik dan berbagai krisis regional semakin menunjukkan bahwa industri pariwisata tidak hanya membutuhkan strategi pertumbuhan, tetapi juga kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi ketika terjadi gangguan global.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Dr. Fitry Primadona, S.Si., MM, Halal Tourism Expert, Researcher & Author, ketika jadi panelis dalam DinarStandard Roundtable Series 5 bertajuk “US–Israel–Iran Regional Crisis: Travel Outlook for OIC Countries” yang diselenggarakan secara virtual.

Forum tersebut mempertemukan sejumlah praktisi dan pemangku kepentingan pariwisata dari Indonesia, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan AS untuk bahas konflik dan ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi keputusan wisatawan, konektivitas perjalanan, serta prospek industri pariwisata di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau disebut Organization of Islamic Cooperation

Dr Fitry juga menekankan pentingnya kerja sama antarnegara OIC dalam menghadapi ketidakpastian mencakup pertukaran informasi, promosi lintas destinasi, penguatan konektivitas, pengembangan paket perjalanan alternatif, hingga koordinasi dalam membangun kepercayaan wisatawan.

Kawasan OKI (OIC) memiliki potensi besar untuk bangun ekosistem perjalanan yang lebih tangguh karena memiliki pasar Muslim yang besar, beragam destinasi, serta jaringan ekonomi dan sosial yang saling terhubung.

“Dalam kondisi global yang semakin tidak pasti, kita tidak bisa hanya berpikir bagaimana mendatangkan wisatawan. Kita juga harus berpikir bagaimana membuat ekosistem pariwisata mampu bertahan ketika terjadi gangguan,”

Krisis juga dapat menjadi momentum bagi destinasi untuk mengevaluasi kembali strategi pariwisatanya, miliki skenario alternatif, perkuat sistem informasi, tingkatkan kapasitas pelaku usaha, serta membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasar regional.

“Destinasi yang paling siap menghadapi krisis bukan selalu destinasi yang paling besar, tetapi destinasi yang paling mampu beradaptasi dan memberikan rasa percaya kepada wisatawan,”

Partisipasi Dr. Fitry dalam DinarStandard Roundtable Series 5 menjadi bagian dari diskusi internasional mengenai prospek perjalanan negara-negara OIC di tengah perubahan geopolitik dan dinamika global yang semakin kompleks

Menurutnya, negara-negara OIC memiliki peluang untuk memperkuat konektivitas intra-OIC sekaligus mengembangkan pasar regional.

“Ketika satu jalur perjalanan terganggu, destinasi harus memiliki alternatif. Diversifikasi pasar, konektivitas regional, dan penguatan kerja sama antarnegara dapat membantu industri pariwisata mengurangi dampak dari krisis yang terjadi di satu kawasan,” katanya.

Saat krisis, wisatawan pada dasarnya tidak hanya mempertimbangkan apakah sebuah destinasi menarik, tetapi juga apakah destinasi tersebut aman, dapat diprediksi, mudah memperoleh informasi, dan mampu memberikan kepastian selama perjalanan.

“Dalam situasi krisis, kepercayaan menjadi salah satu aset paling penting bagi destinasi. Wisatawan membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi keamanan, akses transportasi, perubahan penerbangan, hingga alternatif perjalanan yang tersedia,” ujarnya.

Dia menilai bahwa komunikasi krisis harus menjadi bagian dari strategi pariwisata modern. Destinasi tidak cukup hanya merespons ketika krisis sudah terjadi, tetapi perlu memiliki sistem komunikasi yang cepat, transparan, dan terkoordinasi.

“Ketika informasi resmi tidak tersedia atau terlambat, ruang tersebut akan diisi oleh informasi dari berbagai sumber yang belum tentu benar. Karena itu, kemampuan destinasi untuk berkomunikasi secara cepat dan terpercaya merupakan bagian dari destination management,” jelasnya.

Itu sebabnya dalam forum DinarStandard tersebut, dia tekankan pentingnya kerja sama antarnegara OIC dalam menghadapi ketidakpastian mencakup pertukaran informasi, promosi lintas destinasi, penguatan konektivitas, pengembangan paket perjalanan alternatif, hingga koordinasi dalam membangun kepercayaan wisatawan.

Kawasan OIC, tegasnya, memiliki potensi besar untuk menbangun ekosistem perjalanan yang lebih tangguh karena memiliki pasar Muslim yang besar, beragam destinasi, serta jaringan ekonomi dan sosial yang saling terhubung.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »