JAKARTA, bisniswisata.co.id:Tawaran ‘memasuki’ lorong waktu datang lewat GGS singkatan dari Girl Go Walk di medsos yang menarik perhatian saya untuk langsung mendaftar apalagi pelaksanaannya beberapa hari menjelang peringatan peristiwa G30S/ PKI di tahun 1965.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, peristiwa G30S/PKI dianggap sebagai sejarah kelam dan tragedi nasional yang merenggut nyawa para perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan meninggalkan trauma mendalam bagi bangsa. Peringatan ini memang selalu membawa kita terutama yang hidup sejak masa 60 tahun plus seperti masuk ke ‘lorong waktu’.
Kini tren wisata pengalaman (Experience Tourism) memang banyak diminati antara lain pengalaman Walking Tour di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sebenarnya juga sudah lama ada hanya saja umumnya paketnya tergantung permintaan.
Walking tour rupanya sudah menjadi alternatif pilihan wisata bagi banyak orang saat ini. Tour-tour pendek yang tidak terlalu menyita waktu tetapi memberikan insight budaya dan sejarah.
Kapan lagi punya kesempatan untuk mengeksplore sejarah dan spot-spot tersembunyi dengan kisah-kisah menarik dari jalan kecil dan sudut-sudut kota yang tidak bisa dicapai oleh bis wisata biasa ?.
Jangan lupa, selain merupakan cara untuk mempertahankan kebugaran tubuh, Walking Tour juga memberikan peluang untuk bertemu dengan teman-teman baru…
Nah benarkan, saat kami bertemu di titik kumpul dan langsung berkenalan dengan peserta lainnya keseruan sudah terasa. Profesi dan kegiatan merekapun beragam , ada guru TK internasional, ada pengusaha rumah makan, pensiunan, ibu rumahtangga.
Peserta ternyata bukan warga Jakarta saja yang ikut tetapi mereka datang dari berbagai tempat seperti Bogor, Depok, Bekasi, BSD Tangerang. Sesuai kami yang menjadi peserta lintas usia ini tiba-tiba saja langsung akrab layaknya sebuah komunitas baru.
Mulai jam 8.30 pagi kami menelusuri jejak sejarah di Menteng, kawasan elegan Jakarta yang menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah bangsa. Salah satunya peristiwa penting G3OS/PKI yang terjadi di Menteng.
Kebayangkan kegiatannya mengenang, belajar, dan menghargai sejarah sambil menikmati suasana klasik penuh cerita
dengan titik kumpul stasiun Gondangdia. Rutenya lanjut ke Tugu Kunstkring , Rumah A.H. Nasution , Cendana (Rumah ex Presiden Soeharto) Sekolah Obama dan di Taman Suropati, ngampar sambil makan siang dan menyeruput es Alpukat….
Santai, akrab nenikmati perjalanan
Turun dari stasiun Gondangdia terlihat Gedung N.V. de Bouwploeg atau gampangnya kita biasa menyebutnya Boplo. Sekarang bangunan peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda ini menjadi Masjid Cut Mutia.
Bangunan masjid ini merupakan salah satu bangunan yang dulunya kantor biro arsitektur dan pengembang bernama N.V. De Bouwploeg yang selesai dibangun tahun 1912. Jadi tak heran ya kalau sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang sudah jadi kawasan elite.
Namanya juga Walking Tour jadi kaki ini yang menjadi tumpuan kami tapi ternyata jalan bareng itu mengasyikkan dan tidak melelahkan buat yang berusia 60 plus. Tiba-tiba kami sudah di depan Tugu Kunstring yang didirikan atas prakarsa Nederlandsch-Indische Kunstkring (Asosiasi Lingkar Seni Hindia Belanda) dan dirancang oleh arsitek ternama P.A.J. Moojen.
Berfungsi sebagai galeri seni dan tempat berkumpulnya para seniman serta kaum elite Eropa untuk pameran lukisan, musik, dan kelas seni. Tempat ini pernah memamer- kan karya maestro dunia seperti Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, dan Marc Chagall.
Bukan cuma pelukis asing, Kunstring yang mengalami beberapa kali alih fungsi juga satu-satunya tempat pameran prestisius bagi pelukis pribumi terkemuka saat itu, S. Sudjojono, pada tahun 1938.
Perubahan Fungsi pada Masa Kemerdekaan & Orde Lama yaitu dari Pendudukan Jepang (1942–1945): Dialih fungsikan sebagai kantor propaganda dan markas kelompok Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)
Masa Republik Indonesia (1950–1993): Digunakan sebagai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Di bagian fasad depan gedungnya masih tertera tulisan penanda Immigrasie ini bahkan masih dijaga keasliannya. Setelah kantor imigrasi pindah pada 1993, gedung ini sempat terbengkalai, kosong, dan mengalami penjarahan.
Sempat menuai kontroversi ketika sempat dioperasikan sebagai tempat hiburan (Buddha Bar).Tahun 2013 hingga kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merenovasi dan bekerja sama dengan Tugu Hotel and Restaurant Group, yangmeresmikannya kembali pada 17 April 2013 menjadi Tugu Kunstkring Paleis—sebuah restoran mewah berbalut galeri seni yang melestarikan sejarah arsitektur aslinya.
Bangunannya menggunakan kolom bergaya Corinthian dengan ornamen detail yang halus dan elegan. Jendela lengkung dan pintu dengan lengkungan (arch) memberi kesan megah dan anggun.
Bagian atapnya ada jendela Loteng (Dormer). Pokoknya masih bisa dinikmati detail ornamen, relief, dan lis plester yang menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa (Neo-Renaissance).
Tak percaya tapi nyata
Baru beberapa langkah masuk ke halaman Museum Nasution, tiba-tiba dada terasa sesak, gulungan kesedihan yang aneh tiba-tiba menyerang dan saya menangis diam-diam…………..
“This is it, inilah dia,”. inilah tempat itu. Tempat yang nyata. Tempat yang sudah sering hadir lewat cerita-cerita , lewat mass media, lewat buku-buku sejarah, lewat film… Tempat tragedi itu terjadi. Dan sebentar lagi kamu akan berada di dalamnya…
Sambil menahan tangis saya berjalan mendekati paviliun di kiri bangunan museum, tempat tinggal Letkol Pierre Tendean semasa hidupnya. Diorama di dalamnya menggambarkan saat ia akan ditangkap oleh pasukan Cakrabirawa, bersamanya tampak 2 orang lain yg sedang berjongkok mengangkat tangan.
Dari sana saya pindah ke gedung utama. Patung dada Jenderal A.H. Nasution menyambut para tamu. Rumah kediaman sang Jenderal bersama keluarganya yg telah beralih menjadi museum ini tampak terawat, bersih, rapi, tanpa dekorasi yang berlebihan.

Kayu-kayu kusen pintu dan jendela terlihat berkualitas tinggi, kaca pintu dan jendela terbuat dari kaca patri. Lantai dengan ubin lama juga terlihat cantik dan terawat.
Diorama tiga orang pasukan Cakrabirawa yg sedang mendekati kamar tidur Nasution menyambut begitu saya melangkah ke dalam. Di luar kamar tidur tampak tembok buatan menggambarkan Nasution sedang menyelamatkan diri memanjat tembok rumah sebelah milik Kedutaan Irak.
Diorama lain yang penting adalah patung ibu Nasution dengan baju berlumuran darah, menggendong Ade Irma Suryani yg terkulai, menghadapi 4 org pasukan Cakrabirawa…
Di bagian lain ada diorama istri jendral ini menggendong Ade Irma Suryani, putri mereka yang juga tertembak. Namun Ade kabarnya tidak menangis sama sekali setelah ditembak. Kisah Ibu Yayu Rulia Sutowiryo, istri dari Jenderal Ahmad Yani, adalah potret nyata ketabahan seorang perempuan yang harus menghadapi tragedi kelam (G30S/PKI).
Malam 30 September 1965, suami tercinta sekaligus ayah dari delapan anaknya direnggut secara tragis. Begitu pula si bungsu dalam pelukannya juga wafat menyusul kematian ayah, suami tercinta.
Kesedihan yang senyap kembali timbul melihat rumah yang dulunya adalah kediaman pribadi keluarga A. Yani. Sedih sekali melihat tempat beliau jatuh
diberondong tembakan dan meninggal seketika.
Rasanya di depan mata ini melihat langsung tentara menembak dari lorong di kanan, peluru menembus kaca pintu yang membatasi ruang makan dan lorong ke dapur dan peluru mengenai Jend. A. Yani yang membuatnya tersungkur bersimbah darah dan wafat.
Terbayang kengerian yang dialami oleh anaknya, Surya, yang menyaksikan dari jarak dekat kematian ayahnya. Museum dipenuhi oleh berbagai foto, lukisan, berita dan dokumentasi tentang A. Yani.
Sang jendral memiliki anak 8 orang, mereka asalag Indriah Ami Yani,Elina Lilik Yani,Widna Ami Yani,Remi Tha Yani,Untung Murfeni Yani, Irawan Surya Eddy Yani,Amelia Achmad Yani dan si bontot Ade Irma Suryani
Berkeliling museum, nyaris tidak ada ruang kosong di dinding. Berbagai benda kenang – kenangan dan souvenir juga memenuhi ruangan. Terasa agak berlebihan karena apakah para tamu akan membaca semua dokumentasi itu?

Saya berharap kedua museum yang amat penting artinya bagi sejarah bangsa dan negara ini suatu saat akan dipoles menjadi lebih modern, lebih bagus, lebih menarik dan sehingga bisa juga menjadi tujuan destinasi wisata khusus yang diminati berbagai kalangan
Tour yang saya ikuti ini memang bertema G30S, menyusuri sebagian jalan-jalan utama di Menteng dan berdurasi 3,5 jam. Berawal di stasiun Gondangdia kami melewati masjid Cut Mutia, mampir di resto Kunstring, mengunjungi Museum Nasution, menyusuri Jalan Cendana dan berakhir di Museum Sasmitaloka.
Sampai di rumah di kawasan Cipete, Jakarta, jujur diorama perjuangan Ibu Yayu besarkan 8 Anak sendirian setelah Jendral Ahmad Yani gugur masih membekas.
Kondisi rumah Presiden Soeharto di Jl Cendana yang memprihatinkan juga masih membekas dalam ingatan apalagi anak, menantu, cucu dan cicitnya masih hidup tidak kekurangan. Tidak adakah keinginan keluarganya untuk menjadi museum ?
Tekhnologi dan kemasan paket untuk Gen Z dan Alpha.
Duduk melepas lelah usai shalat setiba di rumah seakan banyak muncul pemikiran- pemikiran baru untuk menyampaikan kisah para founding father bangsa ini karena generasi penerus tidak harus datang karena ingin “belajar sejarah”.
Mereka datang karena ada cerita yang membuat penasaran. Tentu bukan sekedar melihat ini adalah kamar Jenderal A. Yani tetapi merasakan apa yang terjadi di rumah ini pada dini hari 1 Oktober 1965? itu.
Lalu pengunjung mengikuti ceritanya seperti sebuah storytelling experience yang ada pengalaman personal. Misalnya, jangan hanya melihat meja, kursi, kaca dan foto.
Tetapi bisa digiring oleh pemandu wisata dengan pertanyaan “ Bagaimana rasanya menjadi anak yang malam itu melihat ayahnya pergi dan tidak pernah kembali?”
Ini membuat sejarah menjadi manusiawi. Apalagi ada teknologi yang membantu, bukan menggantikan sejarah. QR code, audio story, augmented reality, layar interaktif, podcast pendek, bahkan voice storytelling.
Pengunjung bisa memilih misalnya
mengikuti cerita A. Yani sebagai prajurit, pemimpin, ayah, suami maupun manusia yang menghadapi kematian. Ini jauh lebih dekat dengan konsep tourism experience yang menjadi tren dunia saat ini.
Pemerintah Indonesia perlu memiliki dana pemeliharaan dan kebijakan membuat museum ini sebagai warisan teladan bagi generasi penerus sehingga selalu dikunjungi siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Apalagi Dinas Sejarah TNI AD menyebut museum ini memiliki sekitar 3.384 koleksi, termasuk kaca yang terkena peluru dan berbagai benda pribadi A. Yani
Oh ya, saya adalah salah satu dari 14 orang.peserta walking tour yang diorganisir oleh Girl Go Walk ( GGW) semacam tour operator yang menyelenggarakan berbagai walking tour khusus utk perempuan.
Rentang umur.yang disyaratkan untuk tour ini adalah 25-65 tahun. Namun di tour ini ada seorang peserta yang berusia 70 tahun.
GGW punya tour lain seperti Cikini-Gondangdia, Pasar Lama Tangerang. GGW bukan satu-satunya yang bermain di pasar walking tour berbayar, ada Walk Indies, Bogor Heritage, dll. Tour bisa juga diadakan di luar kota, bisa di sore bahkan bisa pula di malam hari.
Saya pernah mengikuti Walking Tour di Cimahi, pernah juga di Semarang dan Lasem dengan operator yang berkedudukan di Jakarta.Menyenangkan bahwa operator walking tour terus bertambah di dunia pariwisata kita.
Saya justru melihat persoalannya bukan karena anak muda tidak suka sejarah, tetapi karena cara museum menyampaikan sejarahnya belum selalu sesuai dengan cara Gen Z dan Gen Alpha mengalami sebuah cerita.
Museum Sasmitaloka Jenderal A. Yani sebenarnya punya modal yang luar biasa kuat. Ini bukan sekadar museum yang memajang benda lama: ini adalah rumah asli tempat Jenderal A. Yani tinggal dan tempat ia ditembak pada 1 Oktober 1965.
Kalau sebuah memorial dengan nilai sejarah sekuat itu tidak berhasil menarik generasi muda, itu memang layak menjadi pertanyaan kebijakan kebudayaan dan pariwisata.
Museum Sasmitaloka jangan hanya diposisikan sebagai tempat untuk mengenang Jenderal A. Yani. Tetapi diubah menjadi tempat untuk mengalami sebuah kisah tentang keberanian, keluarga, kepemimpinan dan pengorbanan.
Itulah menurut saya pintu masuknya ke Gen Z dan Alpha. Apa yang dicari mereka dari museum? Ada satu kekuatan besar yang jangan sampai hilang. Bukan membuat Museum A. Yani menjadi terlalu modern sampai kehilangan suasana aslinya karena justru rumah asli itu adalah “the experience”.
Dokumen resmi mencatat museum mempertahankan berbagai benda dan penataan kediaman A. Yani, sementara koleksinya sangat besar. Tiba-tiba muncul ide bagaimana konsepnya bertema “Walk Into History” dimana pengunjung tidak merasa sedang masuk ke museum.
Bawa pengunjung merasakan pengalaman sedang masuk ke rumah seorang Jenderal pada malam terakhir hidupnya. Kemudian perjalanan berlangsung dari ruang ke ruang.
“Kalau Anda hidup pada masa itu, nilai apa yang akan Anda pertahankan?”
Nah, di sinilah museum berubah dari tempat melihat masa lalu menjadi tempat berdialog dengan masa lalu,”
Pengalaman bisa dibuat sangat menarik untuk Gen Z dan Alpha, misalnya
program “One Night at A. Yani’s House”. Ya bukan tidur di museum, tentu saja tapi immersive night tour terbatas. Lampu dibuat temaram. Pemandu membawa pengunjung melalui rumah dengan narasi kronologis.
Tanpa dramatisasi berlebihan kemudian di akhir 15 menit Deep Talk, apa sih arti keberanian bagi generasi kita hari ini? Ini bisa menjadi pengalaman yang sangat kuat. Bukan begitu ?
Museum adalah tempat generasi sekarang bertemu dengan masa lalu. Museum Sasmitaloka A. Yani mempunyai sesuatu yang bahkan museum modern sulit menciptakan yaitu authenticity.
Rumahnya nyata, benda-bendanya nyata, dan peristiwa sejarahnya terjadi di tempat itu. Pemerintah sendiri mendokumen-tasikan bahwa rumah tersebut diserahkan keluarga A. Yani kepada negara dan diresmikan sebagai museum pada 1 Oktober 1966. Saya sudahi berandai-andai ini semoga menjadi perhatian dari berbagai pihak ya
Recent Posts
- 7 Kegiatan ‘Soft Adventure’ di Australia Barat
- Aviation Fuel Spotlight: Oil is flowing, but Jet A didn't get the memo
- Bersama Walking Tour Girl Go Walk Hidupkan Rumah Pahlawan G30S/ PKI
- FAA’s SMS deadline is May 28, 2027. Inspectors are already checking
- Million Air brings its year-old brokerage into NAFA’s finance network







Recent Comments