JAKARTA, bisniswisata.co id: Masjid Istiqlal memiliki potensi untuk semakin dikenal sebagai destinasi Halal Tourism atau kerap disebut sebagai Muslim-friendly tourism kelas dunia, tanpa mengubah jati dirinya sebagai rumah ibadah.
“Untuk itu pengelolaannya perlu dilakukan melalui pengalaman pengunjung yang berkualitas, tata kelola kunjungan yang baik, serta kolaborasi berbagai pihak,” kata Dr. Fitry Primadona, S.Si., M.M, akademisi, peneliti, dan penulis buku ‘Pengembangan Wisata Halal: Panduan Bagi Pelaku Usaha dan Pemerintah.’
Wanita yang akrab dipanggil Dona ini menanggapi makin banyaknya wisatawan asing mengunjungi mesjid kebanggaan RI itu. Daya tarik Istiqlal tidak hanya terletak pada kemegahan bangunannya, tetapi juga pada nilai sejarah, arsitektur, identitas kebangsaan, kehidupan keagamaan, dan pesan toleransi yang melekat di dalamnya.
“Namun pengembangan wisata di lingkungan masjid harus tetap menempat- kan fungsi ibadah sebagai prioritas utama,” ujarnya.
Dia menggarisbawahi tiga prioritas dalam pengembangan Istiqlal sebagai destinasi Muslim-friendly, yakni Visitor Experience, Visitor Management, dan Partnership.
Pengalaman pengunjung perlu dirancang secara bermakna; arus dan tata tertib kunjungan harus dikelola dengan baik; sementara kemitraan perlu melibatkan pemerintah, industri, perguruan tinggi, komunitas, dan mitra internasional melalui pendekatan pentahelix.
“Yang ditawarkan bukan sekadar bangunan, melainkan pengalaman dan pemahaman. Pengunjung diharapkan pulang dengan membawa pengetahuan tentang sejarah Istiqlal, Islam di Indonesia, serta nilai kerukunan yang tercermin dari kehidupan masyarakat kita,” tambahnya.
Kisah pembangunan Istiqlal, termasuk keterlibatan arsitek Friedrich Silaban yang berlatar belakang non-Muslim, menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi lintas identitas dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Masjid Istiqlal tidak perlu berubah menjadi tempat wisata tapi harus tetap menjadi tempat ibadah, sekaligus dapat dikenali sebagai warisan hidup yang menyimpan sejarah, pengetahuan, dan nilai persaudaraan,” ujar Fitry.
Dia menjelaskan bahwa konsep halal tourism atau Muslim-friendly tourism tidak seharusnya dipahami sebagai zonasi maupun pembatasan destinasi hanya untuk wisatawan Muslim.
“Halal tourism bukan zonasi, melainkan extended services. Artinya, kita perkuat layanan agar kebutuhan wisatawan Muslim dapat terpenuhi, tanpa menjadi- kan destinasi bersifat eksklusif atau menutup diri bagi pengunjung dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda,” jelasnya.
Penguatan layanan tersebut dapat mencakup ketersediaan informasi waktu shalat, fasilitas wudhu dan tempat shalat yang memadai, pilihan makanan halal, kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta informasi yang mudah diakses.
Seluruh layanan itu perlu dikembangkan secara proporsional dan tetap menghormati aktivitas ibadah serta ketentuan pengelolaan masjid.
Fitry juga menyoroti potensi pengalaman wisata yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral melalui Terowongan Silaturahmi.
Pengalaman ini dapat dikembangkan sebagai Faith and Harmony Experience, yaitu kunjungan edukatif yang memper- kenalkan sejarah, arsitektur, kehidupan beragama dan praktik hidup berdam- pingan di Indonesia.
Pengunjung dari berbagai latar belakang dapat diterima dengan prinsip terbuka, namun tetap dikelola dengan baik melalui aturan berpakaian, area yang boleh dikunjungi, waktu kunjungan, serta etika fotografi.
Agar pengalaman pengunjung semakin kuat, Istiqlal juga dapat mengembangkan layanan informasi multibahasa, seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Mandarin.
Papan informasi, kode QR, materi digital, serta pemandu yang memiliki kemampuan storytelling dan komunikasi lintas budaya dapat membantu pengunjung memahami nilai sejarah dan pesan yang dibawa Istiqlal.
Lebih jauh, pengembangan destinasi perlu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengomersial- kan ruang ibadah.
Ekosistem pendukung dapat melibatkan UMKM, penyedia makanan halal, penerbit dan penjual buku, produk kreatif, souvenir, busana Muslim, pemandu wisata, transportasi, serta penyelenggara kegiatan edukasi dan budaya.
“Dengan demikian, aktivitas ekonomi tumbuh di sekitar destinasi, sementara kesakralan dan fungsi utama masjid tetap terjaga,” ujarnya
Dalam konteks pariwisata Jakarta, Istiqlal berpotensi menjadi anchor destination yang terhubung dengan sejumlah titik sejarah dan budaya lain, seperti Gereja Katedral, Lapangan Banteng, Pasar Baru, museum, kawasan Kota Tua, dan destinasi kuliner.
Dengan demikian keterhubungan tersebut dapat dikemas dalam jalur wisata religi dan budaya Jakarta yang menawarkan pengalaman lebih utuh bagi wisatawan domestik maupun mancanegara dan memperkaya destinasi wisata di Jakarta.
“Pemprov DKI Jakarta dapat mengacu pada kisah sukses Mesjid Alhambra di Granada, Spanyol, Blue Mosque di Moskwa, Rusia, London Central Mosque, Nesjid Sultan, Singapura, Dearborn Mosque Muchigan, AS dan Grande Mosque Paris,”
Recent Posts
- Bombardier's backlog swells to $22.2 billion. Buyers may still have to wait.
- Masjid Istiqlal Dapat Perkuat Perannya sebagai Ruang Ibadah, Living Heritage, Jembatan Lintas Budaya dan Agama – Bisniswisata
- NTSB finds Learjet 60's missing elevator miles from Greenacres crash
- Menatap Babak Berikutnya bagi Pariwisata Indonesia – Bisniswisata
- Bank Mandiri Manjakan Nasabah dengan beragam promosi di Livin’ MARKT







Recent Comments