Kegetiran dalam Bungkus Kegembiraan


SUDAH menjadi kebiasaan bagi sebagian ibu-ibu, setiap malam, sebelum menidurkan anak-anaknya, selalu memberikan nasihat baik dan membersihkan kotoran yang telah mencemari pikiran anak-anaknya. Kebiasaan baik itu terekam dalam puisi Joko Pinurbo berjudul Ibu Kami.

Dalam puisi itu, penyair yang karib disapa Jokpin, menggambarkannya secara naratif dan sederhana, tetapi terselip kata yang menohok dan ironis. Ternyata tak semua ibu-ibu melakukannya, hanya mereka rakyat jelata yang menjadikannya sebagai ritual setiap malam.

Saban malam ibu kami yang

jelata

membersihkan pikiran anakanaknya

dari godaan kiat sukses dan

kaya

dengan mudah, cepat, dan

celaka.

Ibu Kami adalah salah satu judul puisi dalam buku terbaru Jokpin, Epigram 60.

Sekumpulan puisi pendek Jokpin berjumlah 60 puisi yang merespons beragam persoalan di negeri ini, dan peluncurannya sebagai perayaan ulang tahun sang penyair yang ke-60.

“Makanya judulnya Epigram 60 karena kebetulan jumlah puisinya 60. Sengaja dibuat 60 tidak lebih, tidak kurang. Merujuk pada angka usia saya, dan juga jumlah puisi yang ada di buku itu,” kata Joko Pinurbo dalam acara peluncuran buku di Toko Buku Gramedia Sudirman, Yogyakarta, Senin (16/05).

Buku Epigram 60 merangkum kecenderungan tematik dan teknik dari puisi-puisi yang pernah ia terbitkan sebelumnya. Dalam buku itu, ada empat bagian yang setiap bagiannya menyajikan 15 puisipuisi pendek, naratif, getir tapi tetap mengandung nuansa humor, khas Jokpin.

“Cara berpuisi yang menunjukkan semangat bergembira, berkarya dan berbahasa. Meski pun isinya banyak kegetiran hidup,” katanya.

Seperti puisi berjudul Guyon Yogya, yang secara sederhana dan lugas menunjukkan sisi lain kehidupan di Yogyakarta. Dalam puisi itu, Jokpin yang sehariharinya tinggal di Yogyakarta, berani menyentil rendahnya upah minimum regional (UMR), dan tingginya harga tanah di Yogyakarta. Tapi, dengan gayanya yang humoris, puisi Jokpin terdengar romantis dan bernuansa humor.

UMR-nya rendah.

Harga tanahnya tinggi.

Harga kangennya lebih tinggi.

Di puisi itu, Jokpin ingin menyajikan versi lain tentang Yogyakarta, yang ternyata tak hanya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan, seperti dalam buku kumpulan puisinya, Surat Kopi

“Di buku ini (Epigram 60), ada Yogya versi lain. UMR rendah, harga tanahnya tinggi, harga kangennya lebih tinggi. Ini kan ironi,” katanya.

Menurut Jokpin, ada hal-hal yang membuat Yogya menyebalkan. Seperti banyak klitihnya, tata ruang dan lalu lintas yang semrawut, dan persoalan pembuangan sampah yang bermasalah.

“Tapi kok banyak orang kangen, ini yang gila siapa?” kata Jokpin, entah benar bertanya atau sekadar beretorika.

Tak hanya persoalan lokal di Yogyakarta. Beragam persoalan seperti korupsi yang masih terjadi di masa pandemi, pinjaman online atau pinjol, belakangan marak terjadi di negeri ini, pun Jokpin puisikan. Sirene:

Wabah telah disusupi korupsi.

Malam mendengung tiada

henti.

Siapa gerangan bakal lebih dulu

nongol: ambulans atau pinjol?

Tentang piniol, Jokpin membuat puisi tersendiri dengan judul Mata Pinjol. Bagi Jokpin, pinjol memiliki mata yang jelalatan dan suka menggoda.

Hatiku yang bokek

berdebar-debar

digoda mata pinjol

yang jelalatan

di layar ponselku.

Kegetiran-kegetiran persoalan hidup itu memang terjadi dan tak sedikit yang mengalaminya. Namun, lewat puisinya, Jokpin bisa membahasakannya dengan penuh canda.

“Jadi kalau membaca puisi saya, Anda akan bergembira,” ujarnya.

 

 

Pendek

Seperti buku-buku sebelumnya, persoalan-persoalan yang Jokpin refleksikan dalam puisinya adalah apa yang barangkali lazim kita baca di media massa, kita obrolkan di warung kopi atau angkringan pinggir jalan. Persoalan yang dengan kelihaian Jokpin dapat ia rangkum dalam larik-larik pendek yang nikmat disimak.

Meski begitu, pendeknya puisi Jokpin tidak membuatnya menguap begitu saja dari benak kita. Tidak jarang, membaca satu puisinya bisa kurang dari satu menit, tapi tercenungnya bisa bermenitmenit. Seperti puisi berjudul Juli 2021:

Hari-hariku terbuat dari innalillahi.

Sangat pendek, tapi usai membacanya kita akan tertuju pada peristiwa meningkatnya orang yang meninggal karena covid-19 di bulan itu. Pada Juli yang mencekam itu, saban hari memang selalu tersiar kabar orang meninggal.

“Saya mengamati psikologi pembaca, suka puisi pendek, tapi berisi. Saya beradaptasi dan mengembangkan puisi yang pendek tetapi harus mikir untuk membacanya,” ujar Jokpin.

Ajakan berpikir itu juga termaktub dalam puisi Jam Belajar yang mem benturkan situasi maupun kondisi yang ada di masyarakat kita.

Harap tenang.

Negara sedang

khusuk membaca

buku bajakan.

Tentang ironi pembajakan, yang juga menggerogoti buku-bukunya, Jokpin memberikan komentar panjang di saat peluncuran Epigram 60. Baginya, persoalan pembajakan terus terjadi karena budaya korupsi telah mengakar. Sulit untuk mengatasinya kalau negara tidak turun tangan.

“Seakan-akan, secara tidak langsung, pembajakan dilakukan oleh negara. Karena negara tidak memberikan perlindungan,” katanya.

Di samping singkat dan sederhana, tentu saja ada satu elemen lagi yang tidak pernah ketinggalan dari puisi-puisi Jokpin: satir. Bagi penyair yang perdana menerbitkan buku puisinya, Celana, pada 1999, humor bukan sekadar ‘tempelan’ yang menjadi trademark puisinya, melainkan seni baginya dalam menaklukkan hidup yang tidak melulu indah. Apalagi, buku Epigram 60 ialah buku perayaan ulang tahunnya yang ke-60, sehingga kegembiraan sangat kentara.

“Kegembiraan bahwa saya masih diberi kekuatan mental untuk bertahan dalam dunia puisi, yang sejujurnya tidak memberikan kesejahteraan finansial. Itu sesuatu yang patut disyukuri,” katanya.

Dan setidaknya, kegembiraan itu ada di puisi berjudul Transit:

Rekeningku hanya

tempat transit,

diriku saldo abadi.

“Jadi memang kegetiran hidup yang diungkapkan dengan cara yang menggembirakan, syukur bisa menghibur orang. Lebih syukur lagi kalau bisa menyelamatkan satu-dua nyawa dari kematian mental,” tutup Jokpin. (M-2)






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »