Bukber Sambil Kupas Buku ‘Jejak Jiwa’ Mariana Amiruddin


Mariana Amiruddin ( kanan) saat menjelaskan bukunya di Power Space Indonesia

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jalan yang paling sulit dilalui sering kali adalah jalan yang paling mendewasakan jiwa. Memang faktanya yang paling susah dilalui adalah jalan ke dalam diri sendiri dan tidak banyak orang mau melewatinya.

Mengapa ? karena di sana kita harus
mengakui luka yang belum sembuh, mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan, melepaskan ego yang selama ini kita pertahankan, berdamai dengan takdir yang tidak selalu sesuai harapan.

Sering kali lebih mudah berjalan jauh ke luar negeri, menembus gunung dan lautan, daripada menembus dinding hati sendiri untuk melewati Jalan ikhlas, Jalan sabar dan
Jalan percaya.

Untuk itulah menyambut International Women’s Day yang diperingati setiap 8 Maret acara Bukber bersama kali ini sekaligus peluncuran buku “Jejak Jiwa” karya Mariana Amiruddin di Power Space Indonesia di Jln Lamandau IV no : 18,

Geng Waras sang penyelenggara mengundang untuk memahami lebih dalam bahwa Perempuan tidak melawan, tapi diam- diam menjadi manusia yang tidak mudah marah, patah arang, dan selalu bisa mencintai makhluk lainnya.

Buku Jejak Jiwa berisi kumpulan 24 fiksi dimana mereka lahir dari perjalanan panjang penulisan sejak awal 2000-an. Cerita-cerita di dalamnya menyingkap dunia batin perempuan yang dipenuhi ingatan, kehilangan, dan luka, tetapi juga menyimpan harapan dan daya juang.

“ Jejak Jiwa ini salah satu cara saya mengungkap luka-luka yang dalam dari kaum wanita. Sebagian berdasarkan kisah nyata yang harus saya ungkapkan menjadi fiksi, suatu cara berempati pada luka-luka batin pada diri maupun orang lain,” kata sang penulis, Mariana Amiruddin.

Dalam satu kisah ada seorang wanita dari negeri jiran yang ternyata dijebak dan dimanfaatkan oleh kekasihnya untuk membawa narkoba dan dijatuhi hukuman mati. Cinta buta membawanya tidak menyadari telah menjadi korban seorang pria yang sepenuhnya dipercayai sebagai orang yang mencintai dan melindunginya.

Di Pulau Nusa Kambangan untuk menjalani eksekusi, wanita yang menjadi korban ini menunggu vonis untuk ditembak mati. Ternyata dia juga bukan hanya korban gombalan pria tetapi juga korban perdagangan manusia.

Pergulatan batin, upaya menyembuhkan luka hati menjadikannya kuat dan taat sebagai umat kristiani. Sementara di luar sana keluarganya justru hancur memikirkan anaknya bernasib sial dan menjadi korban.

Seperti lirik lagu grup Bimbo:
Aku jauh Engkau jauh
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dosa bertaruh

Dipenjara, Merry_sebut saja nama korban perdagangan manusia dan korban cinta itu terus mendekatkan diri pada Tuhannya, dia justru lebih sehat dari kondisi keluarga dan akhirnya lolos dari hukuman mati karena para saksi mampu meringankan hukumannya dan detik-detik terakhir pelaku sebenarnya tertangkap.

Kepiawaian sang penulis adalah mengolah trauma personal dipertautkan dengan sejarah, spiritualitas, politik, dan feminisme, membentuk narasi yang intim sekaligus universal.

Tokoh-tokohnya bergerak dalam bayang-bayang masa lalu, berusaha mencari makna di tengah kerentanan, tanpa sekadar meratapi nasib. Bahasa yang digunakan puitis, kadang metaforis, kadang lugas, menghadirkan lapisan jiwa perempuan yang rapuh namun tetap menyala.

Mariana bercerita dalam kurun waktu
2005-2018 sebagian fiksinya pernah dimuat di berbagai surat kabar, karya fiksi dalam bentuk cerita dan tulisan pendek yang terkumpul menjadi sebuah buku.

“penulisannya, terdapat beberapa perubahan yang disesuaikan Saya mengumpulkan tulisan-tulisan ini sebagai cermin seorang perempuan. Konteks sejarah dan politik menjadi jejak jiwa manusia yang terus mencari makna kehidupan,” ujarnya.

Tentang Penulis
Untuk orang-orang yang menghargai Keheningan. Mariana Amiruddin, lahir di Jakarta, 14 Maret 1976, adalah seorang penulis dan aktivis perempuan yang konsisten mengangkat isu- isu kesetaraan gender dan hak asasi manusia dalam karyanya.

Dia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan pada periode 2008-2012. Selepas itu, Mariana melanjutkan kiprahnya dengan menjadi Komisioner Komnas Perempuan selama dua periode, yakni sejak 2015 hingga Maret 2025.

Peran tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu suara penting dalam gerakan yang membela hak-hak perempuan di Indonesia.

Mariana menempuh Sarjana Sosial di Universitas Jayabaya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Hubungan Internasional. Ia kemudian meraih gelar Magister Humaniora pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia melalui Program Kajian Wanita (Kajian Gender).

Pemikirannya tentang kesetaraan, sastra, politik, dan hak asasi manusia tidak hanya hadir dalam forum-forum akademik, tetapi juga terpatri kuat dalam tulisan-tulisannya― baik berupa esai, artikel, maupun karya sastra.

Tulisan-tulisan tersebut kerap memadukan ketajaman analisis sosial dengan sensitivitas artistik, menjadikannya relevan dibaca lintas generasi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »