Berpose di depan Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam
Oleh Sri Darmastuti Sahlin
ADDIS ABABA, bisniswisata.co.id: Kaki ini bergetar halus saat kembali menginjak halaman Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam. Di sebelah saya, berdiri suami, belahan jiwa sekaligus teman perjalanan hidup saya, Bengt Sahlin yang mendampingi kehadiran saya di pusat kota Addis Ababa, ibukota Ethiopia.
Enam puluh tahun lalu, Allah SWT menuntun saya ke halaman sekolah ini sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti arah hidupnya. Hari ini, saya kembali, waktu seakan berputar pelan, membawa saya pada lorong-lorong kenangan yang tak pernah benar-benar hilang—hanya tersimpan rapi di sudut hati.
Sampai tahun 1973, saya masih di ibukota Ethiopia ini mengikuti tugas ayah kami berdinas di benua Afrika dan tak terasa setelah lima puluh tiga tahun berlalu dan kini saya kembali bukan hanya untuk bernostalgia. Saya kembali untuk berdialog dengan-Mu. Mengapa Engkau mengizinkan kembali ke tempat ini?.
Mengapa kenangan ini begitu kuat mengetuk jiwa? Mungkin karena Engkau ingin mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan yang utuh. Masa kecil bukan sekadar masa lalu; ia adalah fondasi iman dan karakter. Selintas berkelebat wajah bapak dan ibu yang ikut tersenyum mengikuti kunjungan ini.
Di sinilah saya pertama kali belajar percaya diri. Di sinilah saya belajar mandiri dan mungkin, di sinilah Engkau pertama kali mengajarkanku tentang rasa syukur — meski saya belum mampu menyebut nama-Mu dengan kedewasaan seperti hari ini.
Sebagaimana Allah membimbing saya,
hidup telah membawa saya jauh dari Addis Ababa. Saya dan Bengt kini tinggal di Stockholm Swedia sejak 2001. Sesekali kami tinggal di desa Ukna dan kini saya datang berdua dan mendapat kesempatan merajut kenangan masa kecil dan entah mengapa seakan Engkau berkata, “Lihatlah perjalananmu. Tidak ada yang kebetulan.”
Bangunan Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam telah diperbarui, dicat ulang, ditata ulang. Namun aroma pagi yang sejuk di Addis Ababa, cahaya matahari yang jatuh di halaman sekolah, dan gema langkah kaki anak-anak yang berlarian—semuanya terasa sama.
Di sinilah dulu saya belajar mengeja dunia. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, huruf-huruf pertama membentuk mimpi. Di papan tulis yang berdebu kapur, saya mengenal arti disiplin, rasa ingin tahu, dan persahabatan lintas budaya.Ya karena sekolah ini sekolah internasional dimana murid-muridnya berasal dari mancanegara yang umumnya anak ekspatriat.
Saya berdiri sejenak di bawah pepohonan tua yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan generasi demi generasi. Dahulu, di tempat inilah tawa kami pecah tanpa beban. Kami tak mengenal sekat bangsa atau warna kulit—kami hanya anak-anak dengan rasa ingin tahu yang sama.
Bahasa Prancis terdengar asing di awal, tetapi perlahan menjadi jendela yang membuka cakrawala dunia. Sedikitnya enam puluh tahun telah berlalu. Dunia berubah. Saya berubah. Namun ada bagian dari diri saya yang tetap tinggal di sini—di bangku kayu itu, di halaman tempat kami bermain, di ruang kelas tempat guru-guru penuh dedikasi menanamkan nilai keberanian dan kejujuran.
Suasana kota Adis Ababa, Ethiopia
Kembali ke sekolah ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah perjalanan pulang kepada masa ketika keluarga kami masih berpindah-pindah tugas, orangtua dengan satu anak putri tunggal. Alhamdulilah setelah bertugas di beberapa negara lain akhirnya adikku lelaki lahir…
Saya menutup mata sejenak dan berbisik dalam hati:Terima kasih, masa kecilku. Terima kasih, sekolahku. Karena di sinilah mimpi itu pertama kali berani tumbuh. Takdir sering kali kita pahami setelah puluhan tahun berlalu. Ada tempat yang mendidik pikiran. Namun hanya sedikit tempat yang menjadi ruang perjumpaan antara kenangan dan kesadaran spiritual.
Dan hari ini saya tahu di bawah matahari Afrika itu, Engkau sudah lebih dulu menunggu, menuliskan takdir. Saya dulu tidak mengerti mengapa harus berada di Ethiopia, di sekolah Prancis, dalam lingkungan lintas budaya. Engkau persiapkan jiwa untuk memahami dunia yang luas, untuk belajar toleransi, untuk mengerti bahwa perbedaan adalah rahmat, apalagi bersuamikan warga asing.
Sekolah lama Lycée Franco-Éthiopien Guébré-Mariam di Addis Ababa, Ethiopia — sebuah lembaga pendidikan bersejarah yang
didirikan tahun 1947, atas permintaan Kaisar Haile Selassie I kepada organisasi pendidikan Mission laïque française (MLF) untuk membuka sekolah Prancis–Ethiopia di Addis Ababa.
Pembukaan resmi sekolah ini 15 Maret 1948, dimulai dengan sekitar 70–150 siswa di bangunan awal yang kini dikenal sebagai Black Lion School dan dinamai untuk mengenang Guebre Mariam Gari, seorang patriot Ethiopia yang gugur pada 1937 saat melawan invasi Italia.
Lokasinya di Churchill Road, Arada kebele, pusat Addis Ababa dan merupakan sekolah internasional berbahasa Prancis, berpadu dengan nilai budaya lokal Ethiopia dan pendidikan internasional. Sekolah ini
affiliasi dari jaringan Mission laïque française (MLF) dan terkonvensi dengan Agence pour l’Enseignement Français à l’Étranger (AEFE).
Menyediakan pendidikan dari pra-TK sampai Terminale atau kelas akhir SMA dengan penekanan pada tiga bahasa yaitu Prancis, Amharik atau bahasa Ethiopia, dan Inggris dimana siswa mengikuti kurikulum Prancis yang lengkap, dengan persiapan Diplôme National du Brevet dan Baccalauréat—gelar ujian akhir sekolah di sistem pendidikan Prancis.
Wikipedia juga mencatat selama dekade 1950–1960, sekolah ini menjadi pusat pembentukan generasi muda Ethiopia yang fasih berbahasa Prancis dan membuka akses ke pendidikan tinggi di Prancis dan internasional.
Saat ini sekolah masih aktif dan menjadi salah satu lembaga pendidikan terkenal di Addis Ababa dengan ribuan siswa dari berbagai latar belakang. Sekolah merayakan 75 tahun eksistensinya pada 2024 dengan acara besar melibatkan mantan siswa, guru, pejabat, dan masyarakat pendidikan.

Bersama Rahel ( baju hitam), mengunjungi Kedubes RI Addis Ababa dan lukisan Kaisar Haile Selassie I
Saya dan Bengt lalu menyusuri Jalan Churchill, jalan tempat Lycée Franco-Ethiopien Guébré Mariam berada. Tempat masa kecil hingga sebagian masa remajaku bersekolah di sana. Napak tilas berlanjut melewati Markas Besar Uni Afrika (dahulu OAU), dekat rumah kami dulu di Roosvelt Street .
Kompleks Kantor dan Pusat Konferensi Uni Afrika ( AUCC ) adalah sebuah bangunan di Addis Ababa. Bangunan ini merupakan markas besar Uni Afrika dan menjadi tuan rumah KTT Uni Afrika dua tahunan, pusat konvensi dan perkantoran.
Sekarang menjadi kompleks besar dengan bangunan-bangunan baru yang modern. Ini adalah jalan tempat saya dulu tinggal yang
telah menjadi kompleks apartemen modern.
Saya berteriak girang ketika melihat Hotel Guenet masih ada… luar biasa eksistensinya selama bertahun-tahun, lebih dari 60 tahun. “Kami dulu sering bermain bowling di sini karena dekat dengan rumah,” kata saya pada Bengt yang hanya senyum-senyum melihat istrinya bahagia.
Addis Ababa kini selain modern dan perencanaan tata kotanya rapih dan teratur. Di setiap jalan ada trottoar untuk pejalan kaki dan di sampingnya untuk pengemudi sepeda.
Padahal Ethiopia yang tahun 1980 an adalah negara miskin bahkan rakyat sempat kelaparan, bisa bangkit dan jadi negara yang berkembang maju.
Saya sempat berkunjung ke toko roti langganan dan langsung makan di tempat. Kagum dengan keberadaan Toko Enrico yang didirikan pada tahun 1960, dan masih ada hingga sekarang.
Soal kulineran, selain makan pagi dihotel yang juga banyak menyajikan menu tradisionalnya saat makan pagi seperti Injera yang menjadi favorit saya, juga ada Doro wot dan nama-nama hidangan sepert tibes firfir, tibs dan chechebsa juga akrab di lidah dan enak.
Selain mengunjungi museum Ethiopia,
Kami diundang oleh Rahel, teman kami di Stockholm, ke rumahnya di Addis Ababa.
Nah Rahel memperkenalkan ritual minum kopi ala Ethiopia. Unik karena wadah minumnya bukan gelas atau mug tapi mirip mangkok kecil untuk upacara minum teh di Jepang.
Mengingat kembali kenangan masa kecilku sampai aku beranjak remaja di Addis Ababa bukan hanya mereguk kenangan manis. Namun yang pasti Addis Ababa seperti kehidupan manusia pada umumnya adalah ibukota yang dinamis dan terus berkembang, penuh proyek pembangunan dan reformasi ekonomi sekaligus simbol perubahan cepat di Ethiopia.
Puas berkeliling dan bernostalgia termasuk mengunjungi destinasi wisata alamnta yang indah tiba juga mengucapkan Good bye, Addis Ababa,di jalan-jalanmu, saya pernah menjadi kecil, lalu bertumbuh bersama waktu. Ya Allah, Engkau yang mempertemukan, Engkau pula yang mengajarkan arti melepaskan.
Penulis : tinggal di Stockholm, Swedia
Recent Posts
- GSTC dan ECF Menandatangani Nota Kesepahaman
- Di Bawah Matahari Addis Ababa, Menikmati Manisnya Sebuah Kenangan
- Labuan Cermin: Keajaiban Danau Dua Rasa di Kalimantan Timur
- NBAA Announces Recipients of 2026 International Operators Scholarships
- Thousands of travelers stranded due to airspace closures in the Middle East







Recent Comments