Petani singkong di Desa Binh My
HO CHI MINH CITY, bisniswisata.co.id: Sehari sebelum program Vietnam is Calling, para peserta sudah tiba di Bandar Udara Internasional Tân Sơn Nhất, Ho Chi Minh City. Ini bandara terbesar di Vietnam dalam segi luas mencapai 800 hektar dan tahun 2024 menangani 40 juta penumpang. Tahun 2026 diperkirakan jadi lebih dari 50 juta orang karena mrmang salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara.
Setelah makan malam dan check in di Hotel WINK Saigon Centre dan tidur lelap besok paginya, hari pertama kami menuju Tan Cang Pier, sebuah dermaga yang dilengkapi dengan taman, restaurant dan fasilitas penunjang lainnya untuk pertemuan.
Pagi ini rombongan peserta Vietnam is Calling bersiap menuju Binh My, sebuah desa wisata di Ho Chi Minh City yang tengah di persiapkan untuk menjadi destinasi wisata kota. Setiap penumpang harus memakai pelampung lalu duduk manis sekitar satu jam menyusuri sungai.
Begitu masuk ke dalam speed boad yang mulai bergerak langsung ingat tanah air beta, Indonesia. Soalnya serasa berada di Sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin yang mirip-miriplah dengan Sungai Barito, Sungai kapuas di Kalbar dan kegiatan susur sungai lainnya.
Cuma bedanya di Ho Chi Minh City yang dilewati pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi yang indah. Sebagian teman seperjalanan memilih meneruskan tidur, tapi perjalanan sekitar satu jam dari dermaga Tan Cang ke Binh May lebih baik dinikmati apalagi di seberang speed boad kami ada crew TV dari Vietnam yang asyik meliput perjalanan kami.
Keseruan di speed boad

Pesilat dengan anggota rombongan
Dahulu dikenal sebagai kota Saigon dan kini namanya jadi Kota Ho Chi Minh yang hampir semua jalan mengalami kemacetan cukup parah ditambah lalu lintas motor yang semrawut. Maka begitu menyusuri sungai rasanya lega banget karena meninggalkan kabut asap kendaraan bermotor dan hiruk pikuk kehidupan perkotaan.
Seperti di kawasan Ancol, Jakarta, di tepi Sungai Saigon ini ada kluster perumahan mewah Van Phuc City dengan dermaga khusus untuk kapal-kapal super yach (kapal pesiar kecil ) seperti kawasan Marina Ancol, Jakarta Utara. Jadi Van Phuc City merupakan water front city versi Sungai Saigon.
Saat ini, dengan ekowisata dan wisata budaya berbasis komunitas, pemerintah Vietnam ingin memberdayakan desa-desa wisata seperti Binh My di mana pengunjung dapat merasakan kehidupan sungai dan berpartisipasi dalam pembangunan komunitas yang bertransformasi menjadi destinasi potensial dengan perahu di Sungai Saigon.
Serupa tapi tak sama
Akhirnya tiba di gerbang desa Binh My dengan tulisan Moon River. Saat turun dari speed boad bukalah hati untuk mendengarkan penjelasan yang menggambarkan jiwa penghuninya, dan potensi tanah ini, sebuah desa yang terletak di gerbang barat laut Kota Ho Chi Minh tetapi juga tempat yang melestarikan kedalaman sejarah dan budayanya.
Dari speed boad langsung naik jembatan Moon River itu lalu disambut atraksi pencak silat. Ya ampun jadi ingat saat kelas 3 SMPN 13 di Jakarta Selatan dan suka menonton film laga Bruce Lee. Saya jadi anggota silat Alazhar Seni Bela Diri ( ASBD) di Mesjid Agung AlAzhar di Kebayoran Baru dan di sana saya bertemu jodoh saya almarhum suami, Sulistyo Nugroho Murcito, pangeran Jogya, uhuyy..
Para pesilat langsung memperagakan gerakan-gerakan bela dirinya. Sementara para tamu otomatis membentuk setengah lingkaran dan asyik mengamati. Pakai seragam baju hitam, bermain alat bela diri, gerakan-gerakan lincah dari para remaja wanita dan pria. Untuk sesaat saya nggak mampu berbicara dan hanyut dengan kenangan masa remaja pula.
Hal yang bikin melongo adalah kemiripan wajah, warna kulit serta postur tubuh warga Vietnam ini. Alhamdulilah sejak Sekolah Dasar ( SD) senang pelajaran sejarah. Langsung cari gambaran besar asal-usul nenek moyang orang ASEAN sekitar ±50.000 tahun lalu
Manusia modern pertama datang dari Afrika, lalu menyebar lewat Asia Selatan, Asia Tenggara Daratan (Myanmar, Thailand, Vietnam), hingga Nusantara. Kelompok ini sering dikaitkan dengan budaya Hoabinhian
Jejak Hoabinhian ditemukan di Vietnam,
Thailand, Malaysia, Laos, Myanmar dan di Nusantara terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Artinya nenek moyang awal orang ASEAN berbagi ruang hidup yang sama dan Hoabinhian bukan suku, tapi cara hidup.
Ciri utamanya manusia pemburu, peramu, tinggal di gua & tepi sungai, sangat dekat dengan alam, hidup kolektif & egaliter
tidak mengenal hirarki kekuasaan.
Fondasi mentalitas rendah hati, adaptif, dan komunal Asia Tenggara ciri khas budayanya
yang paling dikenal adalah batu sederhana (pebble tools), batu sungai diasah satu sisi, praktis, tidak rumit. Mereka makan dari hasil alam seperti umbi, buah, ikan, kerang, hewan kecil, mobilitasnya tinggi berpindah mengikuti alam, bukan menguasainya.

Mengapa Hoabinhian penting untuk identitas ASEAN? Karena mereka membentuk cara berhubungan dengan alam, nilai kebersamaan, ketenangan dalam hidup sederhana, Nilai ini masih terasa dalam:
budaya kampung, gotong royong, hidup selaras dengan alam, spiritualitas sunyi (hening, bukan demonstratif)
Mencicipi kue tradisonal
Seperti biasa ritual penyambutan, pidato singkat tokoh Binh My setempat dan cara membuat kudapan yang didemontrasikan setempat membuat saya tercengang bagaimana kue berbentuk kerucut di bungkus daun pisang yang banyak juga di berbagai daerah Indonesia sama dengan yang kami makan di sini. Bagaimana dulu para leluhur berbagi pengetahuan soal kuliner ini ?
Saya jadi asyik memperhatikan semua persamaan Indonesia-Vietnam mulai dari gerakan silat, kue bugis kerucut hingga demo masak ibu-ibu membuat telur dadar isi parutan wortel, udang dan macam-macam sayuran. Di dunia barat sih namanya pancake.
Sibuk icip-icip makanan khas Vietnam dan memperhatikan produk kerajinan tangan warga desa mulai dari tembikar, beragam anyaman eceng gondok untuk aneka wadah dan tempat baju kotor ( laundry) seperti di kamar-kamar hotel bintang mewah yang artistik.
Salah satu alasan utama orang mengunjungi daerah ini dari Kota Ho Chi Minh adalah untuk ekowisata dan pengalaman pedesaannya. Ini adalah tujuan akhir pekan populer bagi penduduk lokal dan pengunjung yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk kota untuk menikmati udara segar, pemandangan pedesaan, dan aktivitas luar ruangan.
Kehijauan yang rimbun, pemandangan tepi sungai, dan suasana pedesaan yang damai.
Tempat memancing, jembatan bambu, naik perahu di sungai dan interaksi dengan alam.
Di sini kita akan menemukan hidangan bergaya Selatan dan makanan khas lokal dengan bahan-bahan segar.
Mengunjungi Bình Mỹ memberi kita gambaran tentang kehidupan pedesaan di tepi sungai Vietnam — mulai dari permainan luar ruangan sederhana , rimbunnya pohonan dikebun nsngka hingga pemandangan pedesaan tradisional seperti saluran air dan kebun buah lainnya
Komune Binh My, Kota Ho Chi Minh saat ini sedang melaksanakan program perencanaan dan pengembangan produk sayuran, bunga, dan buah-buahan. Diharapkan pada Tahun Baru Imlek 2026, komunitas ini akan memanen banyak tanaman.

Usai keliling desa foto bersama
Saya jadi asyik memperhatikan semua persamaan Indonesia-Vietnam mulai dari gerakan silat, kue bugis kerucut hingga demo masak ibu-ibu membuat telur dadar isi parutan wortel, udang dan macam-macam sayuran. Di dunia barat sih namanya pancake.
Sibuk icip-icip makanan khas Vietnam dan memperhatikan produk kerajinan tangan warga desa mulai dari tembikar, beragam anyaman eceng gondok untuk aneka wadah dan tempat baju kotor ( laundry) seperti di kamar-kamar hotel bintang mewah yang artistik
Rupanya desa ini juga penghasil labu kuning ( pumpkin) dibuat gerabah ( tembikar) bentuk labu yang menjadi hiasan desa dan ditempatkan di atas perahu menjadi spot foto yang bagus juga, di lengkapi foto-foto kondisi desa dan sketsa berwarna dan hitam putih yang tersedia dalam bentuk post card dan dibagikan pada rombongan.
Pernah ada kunjungan para seniman Urban Sketchers Vietnam rupanya. Buat saya sketsa-sketsa itu bagus-bagus. Maklum saya pernah juga gabung dengan kelompok Garagas di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta-Selatan dan belajar sketsa dengan para senior.
Nah yang menarik adalah pengelola desa di Binh My ini pandai melakukan pendekatan berbasis komunitas seperti Urban Sketchers karena mereka datang selain berdayakan masyarakat lokal untuk berada di pusat pengembangan pariwisata, tapi juga merekam keindahan desa lewat sketsa berwarna maupun hitam putih. Tangan-tangan mereka piawai menonjolkan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya menjadi sketsa artistik.
Kaliling desa
Kami lalu di giring ke bis-bis kecil untuk masuk ke bagian dalam desa dan berhenti di rumah seorang tokoh masyarakatnya yang sudah sepuh. Ibu ini saksi sejarah Desa Binh My dan cerita kondisi desa dan ayahnya yang di siksa dan dibunuh oleh Vietcong.
Dari sana kami melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan warga desa yang sudah menyiapkan cemilan berupa buah- buahan hasil kebun mereka sepert pisang emas, nangka, jeruk. Ada juga camilan seperti singkong rebus, pisang rebus dan kue-kue tradisional seperti jajan pasar berupa kue mirip kelepon, sawut dari singkong dan cendil warna warni. Hanya saja disini dibikin panjang-panjang dan tipis-tipis lalu dibaluti kelapa parut.
“ Wah mirip banget kue tradisional Indonesia, tapi kalau mau jujur paket wisata ke Binh My kalau untuk turis kita kurang minat lebih tepat jaring bule-bule ” celetuk seorang teman.
Saya lalu menjelaskan pengalanan saat di Kamboja mengikuti sebuah konferensi internasional di sebuah hotel bintang lima di Phomh Penh, Kamboja, beberapa tahun lalu.
Malah kue tradisional itu di Kamboja dibikin ukuran kecil- kecil gaya Petite Four Perancis seperti kue cucur, talam, onde-onde, kue ketan segi lima yang disajikan dengan kesan mewah.

Rupanya warga desa di sini banyak memanen kangkung. Ibu Hong punya lahan keluarga seluas sekitar 5.000 meter persegi. Dia juga memanen dan membeli kangkung dari beberapa petani lain di daerah tersebut untuk dijual ke Ho Chi Minh City.
Dia dapat memanen 30-40 kg dari pagi hingga siang hari, terkadang 50-60 kg kangkung segar. Ditambah dengan jumlah yang dibelinya, jumlah kangkung yang diolahnya menjadi acar kangkung dapat berkisar puluhan kilogram hingga 200 kg yang dijualnya kepada pelanggan tetapnya.
“Setelah panen, kangkung bisa dipanen lagi dalam beberapa hari. Saya sudah terbiasa dan menganggapnya sebagai profesi utama saya. Setelah dikurangi biaya, saya mendapat sedikit penghasilan tambahan, dan saya memiliki pasokan yang stabil, kirimnya secara teratur setiap hari,” kata Ibu Hong, menambahkan bahwa harga beli kangkung segar saat ini sekitar 20.000 VND/kg.
Beristirahat di kebun
Kami berhenti sejenak di dalam kebun buah-buahan dan disuguhi buah kelapa segar yang dipangkas satu-satu bagian ujung nya agar bisa dinikmati dengan sedotan. Petani yang melayani sampai kewalahan diserbu para tour operator yang sudah kehausan.
Saya memilih istirahat bersama warga desa lainnya yang melayani tamu-tamu dari India, Malaysia, Singapura dan terbesar sekitar 85 an orang dari Indonesia. Sebagian diajak menaiki perahu sedikit putar-putar di sungai untuk di shooting crew TV Vietnam.
Selain kangkung mereka juga lebih banyak menanam Moringa di Tahun Baru 2026 atau Tahun Kuda Api ini komunitas Binh My menanam di parit kebun yang diselingi pohon buah-buahan. Permintaan moringa terus meningkat.
Daun moringa segar dan muda untuk diolah menjadi acar moringa, yang kemudian dijual kepada pelanggan tetapnya. Di Indonesia namanya daun kelor atau merunggai (Moringa oleifera), sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini memiliki ketinggian batang 7—11 meter. Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat.

Kunjungan terakhir masih ke workshop pembuatan tembikar, namun kreativitssnya masih dibawah produk gerabah Kasongan, Jogja. Rombongan mendapat souvenir gerabah berbentuk kucing
Kami lalu kembali ke gerbang desa untuk makan siang dsn sholat. Di Desa ini ada kuil Binh My, menciptakan ruang unik yang secara tradisional sakral dan berakar kuat dalam budaya “tepi sungai”.
Namun kami tidak ada jadwal mengunjungi langsung ke sana dan akhirnya berpamitan. Para tokoh dan sebagian warga mengantar hingga kami semua masuk ke speed boad sambil saling melambaikan tangan good bye Binh My ..
Recent Posts
- AOPA Air Safety Institute suggests icing as factor in Challenger 650 crash
- Binh My – Desa Wisata Vietnam di Tepi Sungai
- Trump plans reopening Venezuelan airspace; American Airlines plans first flights
- Trump threatens decertification of Canadian aircraft and 50% import tariffs
- Avfuel Announces Leadership Team Advancements





Recent Comments